Banyak sekali proyek website yang berakhir mengecewakan bukan karena vendornya jelek, tapi karena di awal sudah salah langkah.
Kesalahan #1: Tidak Siap Konten
Paling sering terjadi. Kamu pesan website, tapi konten teks & foto belum siap. Proyek molor, vendor frustrasi, kamu merasa “kok lama sekali?”
Cara hindari: Siapkan dulu minimal: logo, foto produk/tim, teks About Us, daftar layanan, dan foto yang representatif.
Kesalahan #2: Pilih Vendor Hanya Karena Paling Murah
Harga Rp 200 - 300 ribu terdengar menggiurkan. Tapi 4 bulan kemudian website lemot, sering error, dan vendornya sudah tidak bisa dihubungi.
Cara hindari: Tanya dulu: “Kalau ada masalah setelah 3 bulan, masih bisa dibantu?” Lihat portofolio nyata, bukan hanya mockup.
Kesalahan #3: Brief yang Kabur
“Kira-kira seperti ini ya…” tanpa contoh referensi. Hasilnya desain tidak sesuai ekspektasi dan revisi bolak-balik.
Cara hindari: Kirim 2–3 contoh website yang kamu suka + jelaskan apa yang kamu suka dari masing-masing.
Kesalahan #4: Harap Website Selesai Instan
Website bukan barang jadi yang tinggal beli. Butuh diskusi, revisi, dan testing.
Cara hindari: Beri timeline realistis. Kalau butuh cepat, pilih landing page dulu.
Kesalahan #5: Tidak Bahas Maintenance
Kamu anggap “setelah selesai ya sudah”. Padahal website perlu update rutin.
Cara hindari: Tanya sejak awal: “Ada paket maintenance nggak? Berapa biayanya?”
Pengalaman kami di Erjeweb: klien yang datang dengan brief jelas + konten siap biasanya selesai tepat waktu dan puas 100%. Sisanya hampir selalu ada revisi besar di tengah jalan.